Silakupang merupakan kesenian khas dari Desa Cikendung, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang. Silakupang merupakan gabungan dari kesenian sintren, lais, dan kuda kepang. Gabungan kesenian yang dipentaskan dalam durasi 20 menit hingga 1 jam ini memiliki fungsi berbeda-beda. Sintren merupakan tarian ritual meminta hujan pada saat musim kering oleh masyarakat setempat, sementara kuda kepang adalah tarian perang prajurit berkuda. Lais sendiri, merupakan bentuk lain sintren karena ditarikan oleh laki-laki.

     Narasi Sintren secara garis besar menceritakan kisah percintaan yang tidak direstui antara Sulasih dan Sulandana. Kemudian dalam narasi, Sulasih berpura-pura menjadi penari sintren agar mereka bisa bertemu dengan Sulandana. Akhir ceritera percintaan mereka happy ending, karena akhirnya mereka bersama.

     Kesenian Silakupang tidak ditarikan secara soliter, tetapi berkelompok. Dalam sebuah grup Silakupang terdapat 25 orang, peran mereka dibagi menjadi penari, penggendhing (pemain musik), dan pawang. Rentang usia anggotanya pun beragam, dari pelajar SMP hingga orang dewasa. Para pemain biasanya mengenakan kostum berwarna kuning, merah, dan biru; dibedakan berdasarkan perannya. Penari kuntulan mengenakan sepatu dan kudung, sintren mengenakan kostum tayub dengan selendang, dan kuda kepang mengenakan celana, rompi, dan sandal karet.

     Selain  menampilkan keajaiban pergantian kostum dan riasan pemain sintren dan lais, Silakupang juga menyuguhkan aksi-aksi yang cukup mendebarkan bagi penontonnya. Salah satunya ketika pawang memainkan cemeti untuk menyuruh penari kuda lumping bergerak bebas dan liar tanpa irama. Kini Sikupang menjadi kesenian yang diwariskan secara turun-temurun dari nenek moyang Desa Cikendung. Kesenian ini pun tidak hanya dipertunjukkan saat kemarau panjang, karena kini ia telah menjadi produk wisata Pemalang yang bisa ditampilkan kapan pun.