Strategi Pengelolaan Atraksi Dan Pemasaran Desa Wisata Cikendung

cikendung.desaid- Jumat 4 Desember 2020

Seiring dengan meningkatnya kebutuhan wisatawan akan produk wisata desa, yang diikuti oleh pertumbuhan desa wisata di Indonesia yang kian menjamur, maka para pengelola desa wisata harus melakukan fungsi pemasaran yang lebih baik lagi agar lebih terkenal dan banyak dikunjungi, sehingga tujuan mensejahterakan masyarakat melalui kepariwisataan dapat tercapai.

Dalam hal ini di Desa Cikendung mengadakan Forum group discussion, yang di hadiri oleh Bapeda Provinsi Jawa Tengah, dan tim dari stiepari, narasumber dari Desa Wisata Lerep Bapak Maryadi, dan dari Kias Bapak Fajar.

Dalam acara forum ini ada banyak hal yang disampaikan untuk memajukan Desa Wisata Cikendung,

Identifikasi Produk

Produk desa wisata merupakan pengalaman total pengunjung selama melakukan aktivitas di desa wisata. Pengalaman total tersebut terdiri dari apa yang mereka lihat (something to see), apa yang mereka lakukan (something to do) dan apa yang mereka beli (something to buy). Oleh karena itu, langkah pertama dalam pemasaran desa wisata adalah menemukenali atau mengidentifikasi apa yang bisa dilihat, dilakukan dan dibeli oleh pengunjung di desa wisata yang kita miliki.

Cara mengidentifikasi produk adalah pertama dengan mendata sebanyak-banyaknya potensi yang dimiliki, dan ingat sesuatu yang biasa dan dilakukan sehari-hari oleh warga di desa kita, belum tentu biasa dimata pengunjung kita, seperti melihat orang berlatih seni tari mungkin biasa dimata kita sebagai warga desa, tetapi bisa menjadi sesuatu yang luar biasa dimata pengunjung, atau menanam padi mungkin hal yang biasa bagi kita, tetapi bisa menjadi luar biasa bagi pengunjung dari kota.

Cara kedua yaitu dengan cara berfikir inovatif, yaitu membuat sesuatu yang tidak ada di desa kita menjadi ada, seperti membuat gardu pandang dari bambu untuk swafoto (selfie), membuat fasilitas istirahat dengan hammock, membuat panggung pertunjukan dll.

Rumuskan USPs

Tahap kedua dalam pemasaran desa wisata adalah merumuskan USPs (Unique Selling Proposition) atau biasa disebut dengan Unique Selling Point. USPs merupakan keunikan yang akan kita jual kepada pasar yang merupakan alasan mengapa pengunjung akan datang ke desa wisata kita, bukan ke desa wisata yang lain, karena biasanya yang banyak dicari itu yang unik-unik. Selain itu, USPs dapat dijadikan senjata untuk keluar dari persaingan harga, yang dapat berdampak buruk bagi kelangsungan desa wisata.

Tetapkan Target Pasar

Tahap ketiga dalam pemasaran desa wisata adalah mencari segmen pasar yang sesuai dengan karakteristik produk dan USPs yang sudah ditetapkan. Dalam mencari segmen pasar sasaran, pengelola desa wisata dapat menggunakan  berbagai teknik segmentasi seperti segmentasi berdasarkan tujuan wisata,  geografis, demografis, psikografis, perilaku atau berbasis produk.

9 langkah Pemasaran Desa Wisata

Pemasaran Desa Wisata

Seiring dengan meningkatnya kebutuhan wisatawan akan produk wisata desa, yang diikuti oleh pertumbuhan desa wisata di Indonesia yang kian menjamur, maka para pengelola desa wisata harus melakukan fungsi pemasaran yang lebih baik lagi agar lebih terkenal dan banyak dikunjungi, sehingga tujuan mensejahterakan masyarakat melalui kepriwisataan dapat tercapai. Dalam hal ini saya ingin berbagi mengenai langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh pengelola desa wisata dalam memasarkan desa wisatanya pada era ekonomi berbagi (sharing economy) dan era digital pada saat ini. Berikut adalah langkah-langkah dari pemasaran desa wisata:

Cara kedua yaitu dengan cara berfikir inovatif, yaitu membuat sesuatu yang tidak ada di desa kita menjadi ada, seperti membuat gardu pandang dari bambu untuk swafoto (selfie), membuat fasilitas istirahat dengan hammock, membuat panggung pertunjukan dll.

Rumuskan Positioning

Setelah pasar ditetapkan, maka tahap selanjutnya dalam pemasaran desa wisata adalah merumuskan Positioning. Adapun Positioning adalah strategi dalam menanamkan citra desa wisata dibenak pasar agar dipersepsikan unik dibanding dengan desa wisata yang lain. 

Bangun Identitas (brand)

Langkah selanjutnya dalam pemasaran desa wisata adalah membangun identitas, atau yang biasanya disebut dengan branding. Identitas biasanya berupa logo, nama, icon, slogan atau tagline. Desa wisata harus memiliki identitas, agar dapat dibedakan dengan yang lain dan dapat mudah diingat oleh pasar.

Bangun Produk

Tahap selanjutnya dalam pemasaran desa wisata adalah membangun dan mengembangkan produk. Seperti yang telah saya jelaskan sebelumnya, produk desa wisata pada dasarnya adalah pengalaman total dari apa yang dilihat, dilakukan dan dibeli oleh pengunjung. Oleh karena itu, pengelola desa wisata bersama pemangku kepentingan yang lain harus dapat menyediakan sarana dan prasarana agar pengalaman total dari pengunjung tersebut terlayani.

Lakukan Komunikasi Pemasaran

Langkah terakhir dalam pemasaran desa wisata adalah melakukan komunikasi pemasaran atau biasa disebut dengan promosi. Langkah-langkah dalam melakukan komunikasi pemasaran adalah menetapkan tujuan komunikasi, merumuskan pesan dan memilih alat yang cocok.