CERITA ASAL MUASAL WATU LUMPANG DESA CIKENDUNG

Konon di zaman dahulu kala di desa Cikendung hiduplah seorang wanita tua bernama nyai Karsih di sebuah lembah( yang sekarang di kenal dengan sebutan Kampung Karsih) menurut cerita nyai Karsih mempunyai seorang anak bernama Calam, yang sudah beranjak dewasa dan berilmu tinggi baik ilmu kebatinan maupun ilmu Kanuragan, sehingga Calam Tumbuh menjadi Pemuda yang sakti mandra guna, sampai di suatu malam Calam berbicara pada  ibunya yaitu nyai Karsih ”saya sudah dewasa bagaimana kalau saya mencari istri?”  “ooo….ya boleh saja anaku karena kamu sudah dewasa”, jawab nyai Karsih. Tapi kamu harus tapa brata dulu biar mendapat wangsit dari yang Maha Kuasa ya nak?”. Dan keesokan harinya bergegaslah Calam ke sebuah sumber mata air mandi mensucikan diri kemudian bertapa, sehingga sampai saat sekarang  sumber mata Air itu di beri Nama Kali Calam (tempat bertapa Kyai Calam).

          Tak Terasa sudah tujuh hari tujuh malam Calam bertapa, sampai malam ke tujuh barulah Calam terbangun dari tapa bratanya setelah mendapat bisikan bahwa ada seorang Putri Cantik bernama nyai Carang Lembayung yang bertempat tidak jauh dari Desa Cikendung. Kemudian Calam menceritakan wangsit yang di dapat dalam tapa brata di sebuah sumber mata air kepada nyai Karsih yang kemudian nyai Karsih menceritanya pula kepada sesepuh desa yaitu Mbah Kyai Tuwuh Wijaya sehingga Mbah Tuwuh menyarankan agar nyai Karsih pergi melamar nyai Carang Lembayung. Setelah mendapatkan hari yang baik nyai Karsih pun pergi menemui nyai Carang Lembayung di sebuah lembah yang sekarang di kenal dengan sebutan Candi Kendal yang berada di Desa banyumudal perbatasan Desa Cikendung sebelah Utara. Mbah gunung Slamet orang tua dari Nyai Carang Lembayungpun menerima lamaran Nyai Karsih dengan syarat, disaat besanan tidak boleh sampai ada seorangpun yang mengetahui. Kalau sampa ada yang mengetahui, semua barang bawaan akan berubah menjadi arca atau batu. Kecantikan Nyai Carang Lembayung sudha terkenal samai kemana-mana, sehingga untuk menghindari agar tidak terjadi huru-hara perihal lamaran dan pernikahannya harus dirahasiakan. Seketika tupun nyai Karsihpun menyetujui persyaratan yang diminta oleh Mbah Gunung Slamet.

          Waktu terus berlalu sehingga tibalah saat yang telah di sepakati kedua belah pihak konon hari Selasa Kliwon bulan Ganjil adalah waktu yang dtentukan, dimana kedua belah pihak akan melaksanakan besanan. Segala sesuatunya telah di persiapkan oleh nyai Karsih Kuda hitam tunggangan Kyai Calam berikut bawaanya berupa makanan dan alat-alat dapur, seperti : LUMPANG, PAWON, dan perlengkapan lainya. Dengan Kesaktianya Kyai Calam membuat semua barang bawaanya berjalan sendiri mengikutinya, karena syarat yang diminta harus tidak seorangpun yang tahu. Maka pagi buta disaat ayam berkokok pertama kali berangkatlah keduanya dengan mengerahkan segala kesaktianya Kyai Calam menunggang Kuda Hitam Sembrani (Jaran Sembrani). Di saat baru berjalan beberapa saat alangkah kagetnya Kyai Calam karena ada orang yang menghadangnya seketika kabut tebal menyelimuti semua barang – barang bawaanya ketika Kabut itu Menghilang Semua sudah Menjadi Batu ( Arca ) termasuk kudanyapun menjadi batu (watu Jaran di hutan kali Calam) dan orang yang menghadangyapun telah raib dan menghilang.

          Alat untuk menumbuk Padi ( WATU LUMPANG ) sampai saat sekarang masih di pelihara sebagai situs Kuno dan dahulu di Kali Calam banyak berjajar batu-batu yang di perkirakan semua adalah bawaan besanan dari Kyai Calam. Seiring waktu ahirnya Kyai Calam tahu bahwa orang yang menghadangnya adalah orang suruhan dari Nyai Carang Lembayung. Konon adalah Pangeran Teja Arum ( Mbah Weja) yang kemudian menjadi Suami Nyai Carang Lembayung. Glogak sontak menggelak Kyai Calam pun marah karena dirinya telah di hianati nyai Carang Lembayung, barang bawaan yang sudah menjadi batu di tendang. Dalam amukanya, sehingga Batu LUMPANGnyapun melayang sampai ketengah-tengah Desa Cikendung, Daerah perbatasan Desa di palang dengan batu Cadas hingga Saat sekarang di Kenal dengan Sebutan WADAS MALANG.

          Demikian Hikayat atau Ceritra Singkat Yang Kami Himpun Dari Berbagai Sumber,Dari Para sesepuh Desa dan Juga tokoh Masyarakat apa Bila ada yang Mempunyai Versi Lain mohon dapat Maklum adanya.karena ini adalah sebuah Dongeng atau Certra Rayat Cikendung.Kurang Lebihnya Mohon Maaf.

 Sumber : Wahyu