Berdasar pada cerita para leluhur yang kemudian turun temurun di wariskan kepada para Sesepuh Desa Cikendung hingga saat sekarang,konon kedua Tokoh tersebut diatas bukanlah saudara atau kerabat namun mereka bertemu setelah Kerajaan-Kerajaan di Tanah jawa banyak berkembang termasuk kerajaan Hindu Kuno atau Mataram kuno yang notabene Desa Cikendung adalah termasuk dalam Wilayahnya.

         Konon Dimasa itu menurut Cerita dari berbagai Sumber Sesepuh atau tokoh Desa Cikendung, Saat itu datanglah seorang Pelancong dari daerah jawa barat bernama Kyai Suta wijaya,kyai suta wijaya adalah murid dari kyai Walang Sungsang seorang Pengasuh sebuah Padepokan di Daerah Cirebon yang kemudian menugaskan salah satu muridnya Suta Wijaya untuk menyebarkan Agama islam di tanah jawa sesuai dengan wasilah Kanjeng Sunan Gunung Jati dikala itu.setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh dengan mengendarai seekor kuda hitam maka sampailah di daerah Pemalang selatan tepatnya disebuah lembah yang sekarang di kenal dengan Nama Cikendung.di sebuah Bukit kecil yang bernama bukit Cibengang tempat semedi dan pertapaan Mbah Tuwuh mereka bertemu dan saling memperkenalkan diri masing-masing sehingga mereka berdua saling menimba ilmu.waktu demi waktu ahirnya kyai suta Wijaya Kembali ke Tanah Pasundan dan Kyai walang sungsang Menugaskan kembali kepada Kyai Margalangu dengan Tugas yang sama yaitu menyebarkan ilmu Agama Islam dan Merekapun saling menimba Ilmu, Mbah Tuwuh belajar ilmu Agama Islam dan kyai Margalangu belajar ilmu Kanuragan dan ilmu membuat brbagai Pusaka sakti antara lain Keris sipedut,Keris Nagasasra dan tombak Bergagang pendek bernama Tombak Kencana wungu.

         Waktu terus berlalu merekapun sudah seperti saudara berbagai peperangan di hadapi bersama dalam menegakan Agama Islam di tanah Cikendung,perang tanding sering terjadi namun mereka berdua dapat memenangkanya dengan senjata2 pusaka yang mereka buat di bukit Cibengang,dibukit tersebut Mbah Tuwuh menempatkan mbah margalangu untuk tapa brata dan semedi di sebelah Barat yang jaraknya hanya sekitar lima puluh meter dari tempat mbah Tuwuh Wijaya bermukim.hal itu dimaksudkan untuk partanda bahwa mbah Margalangu berasal dari barat atau Tanah pasundan sehingga Mbah Margalangu di berikan tempat atau petilasan di sebelah barat bersama sang istrinya yaitu nyai Senti.

         Disuatu ketika setelah mereka membersihkan Pusaka-Pusaka di Sebuah Kubangan Air di sebelah Utara bukit Cibengang Mereka bermukim,kemudian  mereka beristirahat sambil berbincang –bincang tentang daerah yang mereka tempati Belum di Beri Nama Untuk dapat menjadi sebutan bagi para warga yang bermukim kata Mbah Margalangu Pada mbah Tuwuh wijaya, sebuah Tempat yang digunakan Untuk Mencuci Gobang dan Rangkanya ( Pedang dan sarungnya ) Maka mbah Tuwuh wijaya Namakan GOBANG WERANGAN( yang artinya pedang dan rangkanya),yang kemudian seiring berjalanya waktu masyarakat Cikendung menyebut dengan sebutan KUBANG WANGAN.Kemudian disuatu saat setelah Mereka beraktifitas dan beristirahat di bawah sebuah Kayu besar bernama Kayu Kendung yang di Bawahnya mengalir air Kecil dan berbentuk kedungan Maka untuk menghormati Mbah Margalangu yang bersal dari Jawa barat maka Daerah tersebut  Dia beri nama CIKENDUNG, Ci Bermakna Cai/air( Dalam Bahasa Sunda ) Kedungan adalah air yang mengumpul membentuk sebuah kubangan tempat mandi orang Desa jaman dulu,Hingga saat sekarang Menjadi nama Desa yaitu Desa CIKENDUNG yang mengandung arti air yang mengumpul membentuk Kubangan.

         Demikian selayang pandang tentang cikel bakal Desa Cikendung yang kami Himpun dari ceritra para leluhur desa secara turun temurun hingga saat sekarang.

         Tentang keabsahan cerita tersebut kami menyimpulkan sangatlah tepat dengan apa yang masih ada di Desa Cikendung hingga saat ini.




Testimonials

marpa


Sidung