Asal Muasal Ruat Bumi

Ruwat Bumi /Sedekah Bumi sudah merupakan Tradisi turun temurun di tanah Jawa,dan sampai saat sekarang masih dilestarikan oleh masyarakat Jawa Pada umumnya.Ruwat berasal dari kata Rawat yang berarti dalam bahasa jawa mngandung arti bersih atau bebersih dan Sedekah Bumi mngandung Arti Sodakoh atau ngormati bumi yang kita tempati ,hal ini di lakukan karena kita mendapat bahan pangan sampai membuang kotoran juga dari dan di bumi yang kita pijak sehingga sudah sepatutnya kita mnghormati dengan cara meruwat atau nylameti bumi yang kita tempati.

Adapun asal muasal Ruwat bumi atau sedekah Bumi konon berasal dari zaman Kerajaan Hindu kuno yang pada saat itu  wilayah Kerajaanya terserang pageblug atau wabah penyakit,Sang raja bermuram durja melihat wabah penyakit yang tidak hanya menyerang masyarakatnya tapi juga tanaman di sawah dan ladang.sehingga banyak orang yang mati akibat dari wabah penyakit yang melanda  Kerajaanya,kelaparan dimana mana para petani selalu gagal panen akibat tanamanya selalu terserang hama.pada suwatu Hari sang raja memanggil seluruh punggawanya termasuk para Resi dan para Tumenggung untuk membahas keadaan yang terjadi dalam wilayah kekuasaanya,dalam rapat terbuka yang dilaksanakan di Balairung istana Kerajaan maka menuai kesepakatan Bahwa menurut seorang Resi Kerajaan adanya tragedi di wilayah kerajaanya adalah serangan dari Betara kala yaitu sebangsa Mahluk  yang mnyerupai Buto ijo,dan itu akan terhenti apabila di batas2 kerajaan maupun wilayahnya di sediakan sesaji atau tumbal,adapun sesaji yang di sediakan adalah sebagai berikut,ayam hitam cemani,degan klapa hijau,rujak cembawuk,rujak arang2 kambang,jampang plias,dadap cangkrim,tebu ireng,pring gading ,dan dupa atau kemenyan,sebagai sarana untuk menolak bala agar serangan Betara kala tidak bisa masuk kewilayah kerajaanya kata sang Resi.

 

Setelah semua sesaji dipersiapkan maka hari yang baik mnurut hitungan sang Resipun di tentukan,dan para punggawa Kerajaanpun di Kerahkan untuk memasang sesaji untuk tolak Bala di setiap batas wilayah Kerajaan dan ditengah2 pusat Kerajaan.kemudian Sang Resi melantunkan Rapal2 atau ngidung Untuk menyerahkan sesaji yang sudah di sediakan di setiap batas kerajaan dengan media wayang kulit sebagai simbol untuk menyerahkan sesaji dan mnolak bala yang diakibatkan oleh serangan Betara Kala tersebut.konon Benar adanya karena di batas2 wilayah kerajaan sudah di sediakan sesaji maka

Sang Betara Kala pun tidak berani lagi mnyerang wilayah Kerajaan tersebut karena jika ia dan pasukanya masuk maka akan Celaka Karena semua batas kerajaan sudah tertanam penolak Bala.konon Hal itu dilaksanakan setiap Bulan asyuro atau sura sehingga Kerajaan tersebut Kembali gemah ripah loh jinawi masyrakatnya makmur dan tidak ada lagi pageblug,seiring perkembangan zaman karena masyarakat sekarang melestarikan budaya tersebut dengan Cara yang Islami Yaitu melalui dzikir bersama dan selamatan di setiap bulan Suro yang kebetulan bertepatan dengan Tahun Baru Hijriyah.dan biasanya juga di kemas dengan pagelaran wayang kulit Ruwat Bumi dan berbagai Kesenian2 Tradisional.

Demikian Ceritra singkat tentang asal muasal Ruwat Bumi yang kami kutip dari ceritra para leluhur secara turun temurun sebagai budaya ataupun adat istiadat warisan leluhur yang harus kita lestarikan bersama.